Orang-orang berjajar berpakaian pelindung menyemprot jalanan kota (© Ahn Young-joon/AP Images)
Army soldiers wearing protective suits spray disinfectant as a precaution against the new coronavirus at a shopping street in Seoul, South Korea, Wednesday, March 4, 2020. The coronavirus epidemic shifted increasingly westward toward the Middle East, Europe and the United States on Tuesday, with governments taking emergency steps to ease shortages of masks and other supplies for front-line doctors and nurses. (AP Photo/Ahn Young-joon)

Dalam beberapa minggu setelah mempelajari wabah virus corona mematikan yang berasal dari China, para pejabat di Korea Selatan membangun laboratorium untuk mendukung pemeriksaan 20.000 warga per hari. Di Taiwan, pihak berwenang mulai mengadakan konferensi pers setiap hari untuk memberi informasi kepada masyarakat dan menangkal kabar burung. Dan di Amerika Serikat, National Institute of Health dengan cepat meningkatkan upayanya dalam mencari vaksin.

Sejarah telah menunjukkan bahwa respons yang cepat, terbuka dan transparan dapat menyelamatkan nyawa yang tak terhitung jumlahnya.

Inti dari kesehatan masyarakat yang efektif: berbagi informasi ke seluruh dunia. Sebagai contoh, pada tahun 2009 para petugas kesehatan AS menemukan dua pasien yang tinggalnya terpisah jarak 210 km namun memiliki gejala flu yang tidak diketahui, U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dengan cepat memberitahu masyarakat internasional.

Hanya sembilan hari setelah flu baru itu muncul di belahan bumi barat, pejabat AS mengunggah urutan genetik lengkap virus ke database yang dapat diakses publik secara terbuka, sehingga memberikan titik awal yang lebih cepat bagi para ilmuwan di seluruh dunia. Dalam dua minggu setelah mengidentifikasi virus H1N1, CDC mengembangkan tes dan mengirimkan perangkat tes ke 140 negara.

Kompilasi dua foto: Staf medis mengenakan peralatan pelindung mengambil sampel dari pengemudi mobil (© Ahn Young-joon/AP Images); orang dengan mulut terbuka sedang uji swab (© Ed Jones/AFP/Getty Images)
Suasana pengujian virus corona baru di Korea Selatan pada bulan Maret termasuk fasilitas tes “kendara lewat” (kiri, © Ahn Young-joon/AP Images) dan sebuah bilik pengujian di luar sebuah rumah sakit di Seoul (kanan, © Ed Jones/AFP/Getty Images).

Pada wabah virus corona baru ini (COVID-19), sudah sejak 6 Januari lalu CDC menawarkan untuk mengirim petugas ke Wuhan untuk membantu menyelidiki wabah itu. Namun pemerintah China tidak menanggapi permintaan tersebut, sampai akhirnya para ahli AS bergabung dengan yang misi WHO ke China pada tanggal 16 Februari.

Bahkan setelah memberitahu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang wabah pada tanggal 31 Desember, Partai Komunis China menutupi rincian kritis bahwa virus dapat menyebar antar manusia, demikian laporan Wall Street Journal.

“31 Desember — hari yang sama ketika Taiwan pertama kali mencoba untuk memperingatkan WHO tentang penularan antar manusia,” begitu tweet dari juru bicara Departemen Luar Negeri Morgan Ortagus pada tanggal 23 Maret. “Otoritas China sementara itu membungkam para dokter dan menolak untuk mengakui penularan antar manusia sampai 20 Januari, dengan konsekuensi amat berat.”

Orang-orang memakai masker berkumpul di sekitar foto dokter yang memakai masker (© Kin Cheung/AP Images)
Orang-orang di Hong Kong menghadiri renungan 7 Februari mengenang Li Wenliang, dokter China yang dihukum karena memperingatkan pemerintah China tentang virus baru. (© Kin Cheung/AP Images)

Sementara negara-negara seperti AS, Kanada, Perancis, Jerman, dan Korea Selatan semua mulai memberikan pengumuman rutin tentang wabah virus corona dan kematian, berbagi informasi antar lembaga dan kepada masyarakat untuk membantu memperlambat penyebaran.

Pemerintah Presiden Trump membentuk tindak tanggap virus corona “menyeluruh-Amerika” yang mendedikasikan miliaran dolar untuk kesehatan publik dan melibatkan pejabat negara bagian dan lokal, sektor swasta dan publik, untuk melawan penyakit ini. Satuan tugas virus corona yang baru saja dibentuk oleh Gedung Putih melakukan jumpa pers setiap hari di mana para wartawan bebas untuk mengajukan pertanyaan apa pun yang mereka inginkan.

Pria memakai masker memegang ponsel di atas kepalanya (© Mark Schiefelbein/AP Images)
Seorang pria memotret dari pajangan Tahun Baru Imlek di Beijing pada tanggal 22 Januari, saat virus menyebar di China. (© Mark Schiefelbein/AP Images)

Di tengah wabah, pihak pejabat di Wuhan tetap mengadakan perayaan Tahun Baru Imlek pada tanggal 18 Januari di mana puluhan ribu orang makan bersama-sama, berbagi makanan dengan sumpit, demikian menurut Wall Street Journal.

Sepanjang krisis, Partai Komunis China telah berusaha untuk memblokir informasi agar tidak mencapai publik. Ketika Li Wenliang, seorang dokter di Wuhan, memperingatkan rekan-rekannya tentang virus corona baru, dia diinterogasi oleh polisi dan dipaksa untuk menandatangani pernyataan dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Li selanjutnya tertular COVID-19 saat mengobati pasien dan meninggal pada tanggal 6 Februari.

“Pemerintah China tahu tentang risiko ini, telah mengidentifikasi hal itu, mereka adalah yang pertama tahu,” kata Menteri Luar Negeri Michael R. Pompeo pada sebuah wawancara tanggal 18 Maret. Pemerintah “tidak melakukannya dengan benar dan membahayakan nyawa yang tak terhitung banyaknya.”